PJS Kupang Bertemu PERSANI: Membuka Kolaborasi untuk Gerakan Disabilitas yang Lebih Inklusif
Article Index
Pada Senin, 29 Juni 2026, Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) Cabang Kupang melaksanakan kunjungan dan audiensi dengan PERSANI atau Persatuan Tuna Daksa Kristiani di Kantor PERSANI, Sikumana, Kota Kupang.
Kegiatan ini bertujuan untuk membangun silaturahmi antarkomunitas penyandang disabilitas, memperkuat jejaring gerakan disabilitas di Nusa Tenggara Timur, serta membuka peluang kolaborasi dalam pemenuhan hak-hak seluruh penyandang disabilitas, termasuk penyandang disabilitas mental atau disabilitas psikososial.
Pertemuan ini dihadiri oleh Selafina Tede selaku Ketua PERSANI. Dari PJS Cabang Kupang hadir Emilia Bubu selaku Ketua PJS Cabang Kupang, Ika Handayani Manek, Ivonny Sau, Jems Boli, serta Fatum Ade selaku Direktur Eksekutif PJS Pusat.
Dalam diskusi, PERSANI menjelaskan bahwa organisasi mereka selama ini berfokus pada advokasi dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas fisik. PERSANI juga memiliki beberapa anggota dari ragam disabilitas intelektual dan penyandang disabilitas netra dengan low vision. Namun, hingga saat ini PERSANI belum memiliki anggota penyandang disabilitas mental dan belum pernah secara khusus melakukan pendampingan maupun pelibatan terhadap kelompok tersebut.
PERSANI juga menyampaikan bahwa wilayah kerja organisasinya mencakup seluruh Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dalam menjalankan advokasi, PERSANI telah berpartisipasi dalam berbagai program pemerintah daerah, antara lain program asistensi aksesibilitas, penyusunan Rencana Aksi Daerah Penyandang Disabilitas, serta keterlibatan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan bagi kelompok rentan di tingkat provinsi.
Dalam pertemuan tersebut, PERSANI mengakui bahwa pemahaman mengenai disabilitas mental masih sangat terbatas. Selama ini fokus organisasi lebih banyak tertuju pada isu-isu penyandang disabilitas fisik, sehingga pengalaman hidup, kebutuhan, serta hak-hak penyandang disabilitas mental belum banyak dipahami maupun diintegrasikan dalam kerja-kerja organisasi.
Menanggapi hal tersebut, PJS memperkenalkan organisasi serta berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan di Kota Kupang, khususnya forum peer support yang diselenggarakan secara rutin setiap bulan. Forum ini menjadi ruang aman bagi penyandang disabilitas mental untuk saling berbagi pengalaman, memberikan dukungan sebaya, membangun rasa percaya diri, serta memperkuat proses pemulihan berbasis komunitas.
PJS berharap apabila PERSANI menjumpai anggota atau masyarakat penyandang disabilitas mental dalam kegiatan organisasinya, informasi mengenai forum peer support dapat disampaikan agar mereka memiliki akses terhadap dukungan komunitas yang sesuai.
Selain memperkenalkan program peer support, PJS juga menyampaikan harapan agar PERSANI dan PJS dapat membangun kolaborasi yang lebih erat dalam memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas. Kerja sama ini diharapkan dapat mencakup isu-isu disabilitas secara umum, sekaligus meningkatkan perhatian terhadap hak-hak penyandang disabilitas mental dalam berbagai agenda gerakan disabilitas di Nusa Tenggara Timur.
PJS juga berharap apabila di kemudian hari terdapat pelatihan, lokakarya, diskusi, maupun kegiatan lain yang berkaitan dengan isu disabilitas, PERSANI dapat menginformasikan dan melibatkan PJS Kupang sebagai bagian dari organisasi penyandang disabilitas di Kota Kupang.
Sebaliknya, PJS juga berkomitmen untuk terus membuka ruang kolaborasi dengan PERSANI dalam berbagai kegiatan yang bertujuan memperkuat kapasitas organisasi, memperluas partisipasi penyandang disabilitas, serta mendorong terwujudnya pembangunan yang inklusif.
Kunjungan ini menjadi langkah awal dalam membangun hubungan yang lebih erat antara PJS Kupang dan PERSANI. Melalui komunikasi dan kolaborasi yang berkelanjutan, kedua organisasi diharapkan dapat saling mendukung dalam memperjuangkan penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak-hak seluruh penyandang disabilitas tanpa membedakan ragam disabilitas.
