Peer Support PJS Kupang: Saat Pengalaman Hidup Menjadi Kekuatan Bersama
Article Index
Pada Minggu, 28 Juni 2026, Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) Kupang menyelenggarakan kegiatan Peer Support di Sekretariat PJS Kupang. Kegiatan yang berlangsung pukul 10.00–15.00 WITA ini diikuti oleh 17 orang penyandang disabilitas mental/disabilitas psikososial, bersama beberapa anggota keluarga dan pendamping yang selama ini memberikan dukungan dalam proses pemulihan masing-masing peserta.
Peer support menjadi ruang aman bagi penyandang disabilitas psikososial untuk saling berbagi pengalaman hidup, memberikan dukungan emosional, membangun solidaritas, serta memperkuat proses pemulihan yang berpusat pada pengalaman hidup atau lived experience. Melalui ruang ini, setiap peserta memperoleh kesempatan untuk didengarkan tanpa dihakimi, membangun rasa saling percaya, dan memperkuat keyakinan bahwa mereka tidak berjuang sendirian.
Kegiatan ini juga merupakan bagian dari upaya PJS Kupang dalam membangun komunitas yang berdaya, memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas psikososial, serta mengurangi stigma dan diskriminasi yang masih terjadi di masyarakat.
Kegiatan diawali dengan perkenalan seluruh peserta, kemudian dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman hidup secara sukarela. Dalam suasana yang aman, setara, dan saling menghormati, para peserta menceritakan berbagai pengalaman yang mereka alami selama menjalani kehidupan sebagai penyandang disabilitas psikososial maupun sebagai keluarga pendamping.
Berbagai cerita yang muncul menunjukkan bahwa sebagian besar peserta pernah mengalami tekanan psikososial yang berat, stigma, diskriminasi, trauma, kehilangan orang yang dicintai, kekerasan, pengalaman dirawat di rumah sakit jiwa, hingga pengalaman mendengar suara atau mengalami krisis kesehatan mental.
Beberapa peserta juga berbagi pengalaman mengenai perjuangan menghadapi penyakit kronis, kesulitan mengakses layanan kesehatan yang berkelanjutan, serta tantangan dalam mempertahankan pendidikan maupun pekerjaan.
Di tengah berbagai pengalaman yang penuh tantangan, banyak peserta juga menceritakan sumber-sumber kekuatan yang membantu mereka bertahan. Dukungan keluarga, teman sebaya, kegiatan keagamaan, aktivitas sehari-hari, pendidikan, pekerjaan, serta kesempatan untuk bertemu dengan komunitas yang menerima mereka tanpa stigma menjadi bagian penting dari cerita yang dibagikan.
