Article Index
6. Melakukan Pengumpulan Data Lapangan di Muara Angke
Pada 15 Desember 2024, IMHA melakukan pengumpulan data lapangan di Muara Angke, Jakarta Utara, setelah terjadinya serangkaian peristiwa banjir rob yang berdampak serius terhadap komunitas pesisir sejak 13 Desember 2024. Meskipun air sempat surut pada malam sebelumnya, banjir rob kembali terjadi pada pagi hari tanggal 15 Desember, dengan ketinggian air mencapai antara 25 hingga 50 sentimeter, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan merendam kawasan permukiman warga. Pada hari-hari sebelumnya, ketinggian air berfluktuasi antara 25 sentimeter hingga satu meter, dengan puncak pasang terjadi antara pukul 06.00–09.00 WIB dan surut kembali pada siang atau sore hari. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi DKI Jakarta (BPBD DKI Jakarta) juga mengeluarkan peringatan berkelanjutan bahwa banjir rob berpotensi berlangsung hingga 20 Desember 2024, serta mengimbau warga pesisir untuk tetap waspada.
Fenomena ini merupakan contoh nyata dari dampak pesisir yang dipicu oleh perubahan iklim, di mana kenaikan permukaan air laut, meningkatnya intensitas pasang, serta infrastruktur pesisir yang belum memadai semakin memperbesar kerentanan komunitas yang tinggal di wilayah dataran rendah. Dampaknya menjadi lebih berat bagi penyandang disabilitas, yang menghadapi risiko lebih tinggi akibat hambatan mobilitas, keterbatasan akses terhadap informasi, serta pengecualian dari mekanisme kesiapsiagaan dan respons bencana. Dengan memahami kerentanan berlapis tersebut, khususnya bagi penyandang disabilitas psikososial, IMHA menginisiasi kegiatan pengumpulan data untuk memahami lebih jauh bagaimana banjir rob yang berulang memengaruhi keselamatan fisik, kesejahteraan, dan kesehatan mental penyandang disabilitas yang tinggal di wilayah pesisir rawan banjir.
Asesmen lapangan ini dilakukan oleh tim PJS yang terdiri dari empat orang, yaitu Thonthowi Yusuf, Febri Satryo Prima Wicaksono, dan Rifky Azrif Irmanda, yang didampingi oleh seorang peer supporter PJS Jakarta, Riska. Muara Angke dipilih karena tingkat keparahan banjir di wilayah tersebut melebihi kejadian-kejadian sebelumnya dan menimbulkan tantangan besar bagi warga dengan keterbatasan fungsi. Selama kunjungan, tim berinteraksi langsung dengan warga penyandang disabilitas untuk mendokumentasikan pengalaman, kebutuhan, dan tantangan yang mereka hadapi selama siklus banjir rob yang sedang berlangsung.
Asesmen ini berhasil mengidentifikasi dan mewawancarai beberapa individu dari berbagai ragam disabilitas, termasuk:
• Penyandang disabilitas fisik, termasuk orang bertubuh kecil
• Penyandang disabilitas intelektual
• Seorang bayi tunanetra beserta pendamping/pengasuhnya
Temuan awal ini akan berkontribusi pada penguatan basis bukti PJS mengenai dampak perubahan iklim terhadap penyandang disabilitas, serta menjadi dasar bagi upaya advokasi ke depan untuk memastikan bahwa kebijakan adaptasi iklim, pengurangan risiko bencana, dan ketahanan pesisir di Indonesia benar-benar mengintegrasikan hak dan kebutuhan penyandang disabilitas.
