Pada saat ini setidaknya terdapat 12.600 penyandang disabilitas mental terkurung di panti-panti sosial di seluruh Indonesia. Mereka hidup di dalam sel seperti penjara dan tanpa tahu kapan mereka dapat keluar. Penghuni panti sosial disabilitas mental sebagian di antaranya dirantai, harus menjalankan seluruh aktivitas hariannya di tempat yang sama mulai dari makan, istirahat, hingga buang air besar.

Namun, apa salahnya kondisi di atas? Barangkali banyak di antara pembaca yang mempertanyakan mengenai apa masalahnya jika kita mengurung penyandang disabilitas mental di dalam panti sosial. Bukankah panti sosial adalah solusi terbaik untuk masyarakat dan penyandang disabilitas mental itu sendiri daripada hidup bebas membahayakan masyarakat?

Dalam buku ini, penulis tidak membenarkan anggapan lazim itu semua. Justru, melalui buku ini penulis akan menyodorkan perspektif beserta data-data bahwa selama ini ada yang salah dalam perlakuan terhadap penyandang disabilitas mental di Indonesia. Pada buku ini, penulis menggunakan pendekatan hak asasi manusia (HAM) sebagai kacamata dalam melihat penyandang disabilitas mental.

Pendekatan HAM merupakan pendekatan mutakhir dan paling relevan dalam memandang penyandang disabilitas. Pendekatan HAM ini sudah mulai menjadi pendekatan utama dalam memandang penyandang disabilitas. Di dunia, kita mengenal UN CRPD (Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitas). Konvensi yang mulai berlaku pada 3 Mei 2008 ini merupakan perjanjian hak asasi manusia yang secara spesifik mengatur mengenai perlindungan, pemenuhan, dan penghormatan hak-hak penyandang disabilitas. CRPD berisi pasal-pasal yang memastikan semua penyandang disabilitas dapat menikmati semua hak dasar manusia dan kebebasan yang fundamental.

Buku ini menjadikan UN CRPD sebagai basis dalam menjabarkan data-data kekerasan dan pelanggaran HAM yang dialami oleh penyandang disabilitas mental di Indonesia. Tentu saja, CRPD menjadi pedoman kami dalam mengangkat persoalan-persoalan yang dihadapi oleh penyandang disabilitas mental di Indonesia. Kami membenturkan antara realita yang ada dengan mandat CRPD. Hampir semua data-data yang kami tulis dalam buku ini sudah kami laporkan ke Komite CRPD di PBB pada Januari 2020 lalu. Besar harapan, pelaporan kami ke PBB dapat memperbaiki kondisi penyandang disabilitas mental di Indonesia.

Akhirnya, melalui buku ini pembaca akan dibawa untuk melihat betapa banyaknya hambatan bagi penyandang disablitas mental untuk menikmati hak-haknya sebagai seorang penyandang disabilitas maupun sebagai warga negara.

 

Buku tersebut dapat diakses melalui link berikut :

Buku_Orang-orang yang Dilupakan : Situasi Penyandang Disabilitas Mental di Indonesia